 | Selamat berjumpa sahabat sejiwa... | Jan 7, 2005 |
Ketika ketiadaan mewujud dalam manifestasi cinta dan penciptaan
Kita gampang ketipu yah? Kalo ada ribut-ribut soal kasus tertentu, rame-rame kita obrolin. Soal FPI terus menerus....padahal tuh emang hal itu sengaja terjadi dan direncanakan, untuk nutupin kasus yang lebih besar lagi...BBM....itulah fungsinya ormas-ormas seperti FPI dan lainnya. Bikin ribut untuk menciptakan wacana alih-alih dan memudarkan kasus yang lebih BESAR dan menyangkut PERUT dan MASA DEPAN. Itulah hebatnya pemerintah. Mampu membuat manajemen konflik dan mem-blow-up nya dengan mudah, ya karena antara pemerintah dan media bahu membahu membangun dan mengarahkan pemikiran dan opini publik. Ck..ck..ck.. ( barusan itu cicek lho, bukan saya..)
Negara ini dikuasai orang-orang serakah dan bodoh. Pejabatnya, pelaku bisnisnya, pegawai-pegawai negrinya (sory kalo ada yg pegawai negri nih ), bahkan mungkin masyarakatnya. Tapi mungkin gak semuanya serakah dan bodoh. Tetap ada segelintir manusia-manusia yg cerdas dan berhati mulia. Tapi terlalu sedikit, sehingga gak mampu berbuat banyak atas keadaan yang semakin parah ini. Kadang gw jadi berpikir begini, andai aja negara ini masih dikuasai orang-orang eropa, seperti portugis, inggris, belanda atau mungkin Amerika. Maksudnya bangsa ini gak mencapai kemerdekaannya waktu tahun 45 dulu itu. Mungkin kalo bangsa ini diatur oleh orang-orang eropa malah akan lebih makmur. Liat aja Singapura, Malaysia atau Hongkong. Mereka makmur kok. Malah bangsa kita ini yang menggembar-gemborkan kemerdekaan dan jasa-jasa pahlawannya, gak jelas masa depannya. Gw curiga, bahwa para pahlawan kita zaman dulu bukan berjuang untuk kebebasan bangsa ini. Tapi semata-mata karena mereka tergugat wilayah kekuasaanya. Misalnya pangeran Diponegoro, dia kan anak raja jawa, yg otomatis ketika belanda menguasai wilayah kekuasaan trah-nya, dia gak akan nerima begitu aja. Wong tadinya enak-enakan jadi pangeran, tiba-tiba mesti nurut ke belanda dan terancam kekuasaan dan kekayaannya oleh belanda. ya pastinya dia gak mau-lah. Makanya dia berjuang. Ya untuk mengambil kembali hak kekuasaan dan hartanya. bukan atas dasar kebebasan bangsa ini. Atau juga sultan hassanudin. Pokoknya para pahlawan nasional kita kebanyakan memiliki latar belakang sebagai orang-orang dari garis keturunan bangsawan atau anak-anak raja, yang notabene ketika orang eropa menguasai tanah-tanah mereka, ya mereka akan tergusur kekuasaan dan harta bendanya. Jadi mereka berjuang untuk mempertahankan kekuasaan dan harta mereka sendiri. Bukan untuk bangsa ini. Jadi gw rasa akan lebih makmur dan terjaga budaya nasional kita, justru bila bangsa ini dikuasai orang-orang eropa. Kemerdekaan bangsa ini cuma tambah merusak dan membuat orang-orang pribumi dengan mental maling dan pemalas menguasai podium kekuasaan dan panggung-panggung politik. Bangsa ini gak butuh pahlawan. Bangsa ini butuh keselamatan ekonomi!
Ngeliat perkembangan dunia penerbitan beberapa dekade terakhir ini cukup menyedihkan. Bukan! Bukan soal biaya produksi yang ngelonjak ataupun daya beli masyarakat yang semakin menurun. Tapi kwalitas para pelaku dunia penerbitanlah yang mengalami degradasi. Banyak penerbit yang menerbitkan buku-buku yang sebenernya gak layak terbit, dari segi materi/isi tulisannya. Faktor yang marak berkembang saat ini adalah 'jual-beli' label/logo/merk penerbit. Biasanya ada pihak-pihak, pribadi maupun instansi ataupun komunitas tertentu yang rela ngebayar sejumlah uang agar buku-nya bisa diterbitkan disebuah penerbitan. Atau ada juga kelompok tertentu yang membuat publishing house untuk menerbitkan karya-karya 'onani' dari para anggota kelompoknya. Yang bikin mereka, yang memuji-muji mereka juga, dan yang nge-beli ya mereka-mereka sendiri. Akhirnya ya kwalitasnya bisa dikategorikan sebagai 'mengenaskan', atau'memprihatinkan'. Inikah yang disebut degradasi dunia perbukuan dan penerbitan? Orang sering mengira mereka mengenal cinta. Tapi justru mereka sering sesat dalam pemahaman tentang cinta. Lalu, apa sih cinta? Rasa memiliki biasanya dianggap orang sebagai rasa mencintai. Sebenarnya rasa memiliki adalah berbeda dari rasa mencintai.
Manusia memiliki ego yang merongrong seluruh aspek berkehidupannya. Ego emang hal mutlak yang dimiliki mahluk hidup. Karena dengan ego kita bisa mempertahankan eksistensi dalam seleksi alam yang demikian keras. Namun ego membuat kita rancu untuk membedakan hal yang eksistensial dan hal yang spiritual.
Rasa memiliki, atau keinginan untuk memiliki muncul dari dorongan ego. Eksistensi selalu diikuti dengan pencitraan. Bahasa kerennya image. Jadi, ketika muncul rasa ingin memiliki, secara otomatis muncul juga rasa ingin di akui.
Misalnya memiliki kekayaan, memiliki istri cantik/suami ganteng, dan memiliki kekuasaan. Yang pada akhirnya ingin dihormati dan diakui sebagai manusia yang unggul. Semua itu berkaitan erat dengan keduniawian. Dan gak jarang, untuk ngedapetin semua luxurious dan image terhormat/unggul itu, orang bisa berbuat apa aja untuk mencapainya. Padahal mestinya sih orang bukan mengejar kehormatan. Tapi kemuliaanlah yg semestinya dicapai.
Patut dibedakan nih. Rasa ingin dihormati atau menjadi terhormat itu selalu butuh diakui.Sedangkan kemuliaan gak butuh pengakuan dari siapapun. Jadi, kalo orang nyari kehormatan dalam hidupnya, ya dia mesti butuh pengakuan dari sosialnya. Tapi kalo orang yang nyari kemuliaan dalam hidupnya, ya reward dia adalah mendapat kebahagiaan dari perbuatan baiknya.
Kembali lagi soal ego. Ego itu juga gak berjalan sendiri. Dia kerjasama dengan akal. Akal memiliki kemampuan untuk mengatasi persoalan-persoalan yang gak mampu dijangkau ego dan jasmani. Karena sebenarnya akal itu memiliki dua sisi yang saling bertolak belakang. Satu sisi dia membela kepentingan kesejahteraan ego dan pencitraannya, sedang disisi lain dia membawa misi untuk mengingatkan mahluk/manusia pada sifat-sifat ke ilahian yang tertitip dalam ruh.
Nah, sifat-sifat mulia adalah sifat-sifat ke ilahian. Sifat ini ada di ruh atau rohani kita. Lalu kita mengenalnya sebagai sisi spiritual kita. Kembali pada pembahasan awal, rasa mencintai sejatinya muncul dari dorongan ruh suci. Karena sang pencipta menitipkan keabadian dan kemuliaan cinta-Nya dalam ruh kita.
Rasa mencintai yang murni adalah sense of giving. Karena cinta itu sendiri adalah pemberian, maka dorongan yang muncul dari rasa mencintai semestinya adalah dorongan untuk memberi. Jadi lebih kurang kayak tongkat estafet gitu deh. Sang pencipta memberi cinta ke mahluknya, kemudian mahluknya itu memberikan lagi kepada mahluk-mahluk lainnya. Yang pada akhirnya dikembalikan lagi kepada sipemberi pertama.
Jadi kayak sebuah lingkaran yang utuh, dari awal kembali ke awal. Itu makna dari keabadian cinta.Dan dalam keabadian cinta gak ada rasa ingin memiliki. Yang ada adalah the joy of giving. A celebration,indeed. Cinta adalah sebuah perayaan. Merayakan sebuah karunia tanpa batas bersama sang pemilik keabadian cinta.
Jadi, bedakanlah cinta dari keinginan untuk memiliki. Kecuali kalau anda emang telah terbutakan oleh ego dan akal anda, mungkin anda udah gak akan mampu lagi melihat sejatinya cinta.
Setiap orang berhak untuk menyatakan dirinya istimewa. At least untuk hanya sekedar’merasa’istimewa apa salahnya kan? Tapi sebenernya seberapa istimewa-nya sih kita? Atau seberapa untungnya sih buat kita untuk merasa istimewa?
Emang bagus sih untuk men-support kepercayaan diri kita dalam ngejalanin keseharian. Mungkin dengan meyakinkan diri kita bahwa kita adalah persona yang istimewa adalah salah satu cara yang paling efektif untuk membuat kita optimis.
Tapi kita sadar gak sih kalo ternyata mengistimewakan diri itu punya ekses gak bagus juga? Gak bagusnya adalah, mindset kita jadi udah terkondisi kalo kita lebih baik atau berbeda dari orang pada umumnya. Salah-salah kita malah jadi orang yang terlalu pemilih dalam mengambil kesempatan yang datang pada kita.
Again, setiap orang emang mestinya memilih sih. Tapi kalo TERLALU pemilih juga akibatnya merugikan diri kita untuk menjadi pribadi yang jauh lebih berkembang dan bertumbuh.
Tapi, dalam topik ini gw cuma mau ngebicarain pembahasan yg lebih spesifik aja deh. Soal JODOH! Secara gw lagi capek banget nyari jodoh gw, jadi gw pingin mengarahkan topik ini pada persoalan mendapatkan jodoh.
Lalu apa hubungannya jodoh dengan merasa istimewa? Ya pasti sangat berhubungan erat lah! Nih ya, gw ngerasain banget kalo masalah kesulitan dapet jodoh yg gw alami adalah faktor terbesarnya karena ego gw itu. Gw merasa gw pribadi yg istimewa, sehingga gw cuma mau nyari cewek yang sepadan, yang gw anggap sama istimewanya ma gw.
Konyolnya adalah, cewek yang gw inginkan itu ternyata merasa lebih istimewa dari gw, sehingga dia tidak merespon perhatian yg gw berikan. Yang ada dia malah menantikan sosok laki-laki yang sama istimewanya dengan dia. Secara tuh cewek merasa istimewa dengan kepribadiannya yang unik, maka dia tengah menanti kehadiran laki-laki unik dan istimewa yang dia pikir pantas buat dirinya.
Dan gw gak masuk itungan. Karena gw gak masuk kategori istimewa dan unik sebagai sosok seorang laki-laki. Alias gak memenuhi persyaratan buat dia.Gw cuma pria berkepribadian standard, average.
Lalu, akhirnya gw ambil satu cara paling efektif dalam menyelesaikan persoalan jodoh gw ini. Gw lupain sicewek’istimewa’ itu, dan gw merubah mindset gw dengan cara pandang berbeda.
Mindset gw tentang diri gw yg sekarang adalah : Gw adalah orang biasa-biasa aja yang berharap bisa mencintai dan dicintai dengan tulus. Dan gw cuma mencari gadis biasa-biasa aja yang mencari hal yang sama seperti yang gw cari. Dan persetan dengan segala keistimewaan, serta orang-orang yang merasa dirinya istimewa. Gw cuma perlu cinta dan kasih sayang. Bukan Keistimewaan yang artifisial. Karena Itu hanya ilusi akal.
Apa gunanya merasa istimewa kalau itu hanya membutakan mata kita dari bentuk cinta yang sesungguhnya? Gw punya cerita nih. Tentang temen gw. Gw bersahabat ama dia sejak SMA. Nah, sejak SMA temen gw ini udah sangat berkeinginan untuk pake jilbab. Dia pun minta pendapat ama temen-temennya, ama ortu-nya, bahkan ama beberapa guru. Tapi semuanya gak ada yang setuju kalo dia pake jilbab. Akhirnya, dia ragu dan dia urungkan keinginannya untuk pake jilbab. Kemudian, waktu dia kuliah dia curhat lagi ke gw. Keinginan dia untuk pake jilbab semakin kuat. Secara dia kuliah di Universitas Islam gitu, pastinya dia merasa gak perlu lagi minta pendapat temen-temen, ortu atau dosen tentang keinginan dia memakai jilbab. Maka tanpa banyak berpikir lagi dia pun mengenakan jilbab dikampusnya. Tapi ternyata dia ditentang habis oleh temen-temen dan dosennya di kampus. Dia pun cerita ama gw sambil nangis-nangis saking sedihnya. Nah, sekarang dia kan udah kerja disebuah perusahaan swasta. Gw udah jarang ketemu ama dia. Tapi kemaren ini gw ketemu ama dia di Plasa Senayan. Setelah kita ngobrol ngalor-ngidul dan becanda sana-sini, gw tiba-tiba inget tentang keinginan dia pake jilbab dulu. Gw Tanya ke dia, apakah sekarang keinginan dia untuk pake jilbab udah hilang atau masih ada. Begitu gw Tanya begitu, dia pun langsung sedih, sampe meneteskan air mata. Dia pun cerita, kalo dikantornya sekarang dia pernah pake jilbab, tapi ternyata semua temen kantor dan semua atasan-atasannya menentang keras. Sama persis dengan pengalaman dia waktu kuliah dulu. Dia bener-bener gak abis pikir, kenapa orang lain bisa dengan bebasnya pake jilbab tanpa ada yang menentang, sementara dia begitu sulitnya memperjuangkan diri ditengah lingkungan sosialnya untuk di perbolehkan pake jilbab. Akhirnya, diapun minta pendapat ke gw. Dia Tanya begini : “ Rud, lo kan sahabat terbaik gw. Tolong lo jawab dengan sejujur-jujurnya. Sebenernya apa sih salah gw, sampe-sampe seluruh dunia sangat menentang gw untuk pake jilbab. Padahal kan seharusnya mereka mendukung niat suci gw itu yang sesuai dengan panggilan agama. Tolong Rud, gw minta pendapat lo yang sejujur-jujurnya, apa sih kesalahan gw?” Gw bingung, mau jawab apa. Tapi dengan sedikit ragu, akhirnya gw angkat bicara. “ Terus terang Roy, gw gak tau mesti ngomong apa.” Setiap hari kita disuguhi berita-berita sampah dihampir semua media. Isu-isu politik, isu-isu sosial, semuanya seperti datang dan menguap tanpa jejak. Belum selesai satu peristiwa dijadikan bahan teriakan, muncul ribuan bahkan jutaan peristiwa lainnya bersusulan sampai-sampai kita kehilangan orientasi dari inti persoalan yang sesungguhnya.
Itulah memang yang diinginkan para penguasa. Menghilangkan fokus orientasi persoalan sehingga mereka bisa leluasa mengatur strategi mengarahkan masyarakat untuk menjadi budak-budak kekuasaan mereka. Pembodohan adalah salah satu caranya. Dengan menciptakan budaya ‘tontonan’ untuk setiap persoalan bangsa dan kemanusiaan, menjadikan kita terbiasa menjadi orang-orang yang tidak mampu masuk dalam realita yang sesunguhnya dari sebuah isu.
Semua isu adalah entertainment! Hiburan layar kaca yang bisa disaksikan sambil mengunyah penganan atau pop corn dan memaki sebagai sebuah ungkapan kepedulian. Melihat peristiwa penggusuran di tv, kita bisa dengan enaknya memaki para pejabat atau petugas trantib sambil mengunyah santap buka puasa. Lalu dengan seperti itu kita merasa sudah cukup mengekspresian kepedulian kita pada kaum tertindas.
Begitulah. Beragam peristiwa datang dan pergi sebagai sebuah entertainment. Lalu menguap dan terlupakan begitu saja. Tanpa kita peduli, apakah persoalannya telah teratasi dengan tuntas atau belum.
Kita mestinya lebih cermat dalam melihat sebuah isu/berita yang dilempar ke publik melalui media-media. Tahukah anda isu-isu yang meresahkan datang dari mana? Coba perhatikan, isu-isu seperti kolor ijo, dukun santet atau isu-isu meresahkan lainnya biasa muncul dari media-media yang didalangi para penguasa ORBA. MNC group ( TPI, RCTI, Global Tv). Atau media cetak seperti Pos kota yang nota bene didalangi oleh mantan menteri orba, Harmoko adalah salah satu media cetak yang sangat sering menciptakan isu-isu yang meresahkan ditengah masyarakat.
Isu-isu itu bisa berupa berita, atau sinetron-sinetron yang menakutkan atau tayangan –tayangan pengusir hantu miliknya LATIVI, yang didalangi oleh Abdul latief, yang lagi-lagi adalah mantan menteri ORBA. Dan acara-acara komedi yang sungguh tidak bermutu bertebaran dimana-mana sebagai sebuah upaya pembodohan. Juga sinetron-sinetron remaja yang merusak muncul menjamur. Biasanya mereka bekerja sama dengan lembaga-lembaga survey yang meng-klaim bahwa polling masyarakat menunjukkan bahwa acara-acara seperti itu sungguh diminati.
Cobalah lebih jeli melihat skema ini. Mereka berusaha menciptakan opini publik dengan mempertontonkan dan meramaikannya dimedia seolah itu adalah kenyataan yang terjadi di masyarakat. Ingat peristiwa lumpur Lapindo ? Ketika semua tv menayangkan musibah itu, ANTV seperti malu-malu kucing untuk ikut menayangkannya. ANTV milik siapa? Aburizal bakrie. Siapa dia? Pemilik Lapindo.
What I’m trying to say is….media memiliki kecendrungan untuk mengedepankan kepentingan politik dari sang pemilik-nya. Apa yang menjadi program politik mereka, maka mereka akan segera mengumbarnya kehadapan publik untuk menciptakan opini dan membuat kita percaya bahwa sesuatu itu memang sungguh isu yang urgent. ( kecuali untuk berita-berita bencana)
Lihat kembali, siapa yang berdiri dibalik sebuah perusahaan media. Dengan mengetahui siapa pemiliknya, dengan mudah kita bisa menerka, permainan apa yang sedang diciptakan kemuka publik dan dengan mudah kita bisa melihat tujuan-tujuan kotor yang tengah diupayakan.
Jadilah penonton yang pintar, jadilah masyarakat yang kritis. Jangan percaya begitu saja pada apa yang terlihat dihadapan mata kita. Jangan mau dibodohi dan diarahkan untuk kepentingan yang sama sekali tidak mensejahterakan kita.
Be Smart!!
Kita sudah terlalu terlatih untuk hidup dalam ketidakpedulian terhadap kesulitan orang lain. Saudara-saudara kita yang tertindas serakahnya kebijakan politik, terampas hak-hak hidupnya oleh bencana yang datang bergiliran, tersisih dari ganasnya keangkuhan standard-standard nilai sosial tidak mampu membuat kita menoleh dan mengulurkan tangan-tangan untuk meraih puing-puing kehancuran jiwa mereka. Akhir Ramadhan bukanlah hari kemenangan buat kita. Kita bukanlah orang-orang yang pantas diselamatkan oleh tangan-tangan syurga. Apalagi untuk ditinggikan derajat kemuliaannya. Sama sekali tak pantas. Seharusnya kita menuai penderitaan sebagai sebuah pelajaran paling berharga. Maka ketika semua yang kita pertahankan, perjuangkan dan cintai diambil kembali diwaktu jelang hari raya ini, adalah bayaran setimpal untuk kesombongan, kecurangan dan kebutaan nurani yang kita idap selama ini. Sebuah permohonan maaf lahir bathin tidak cukup untuk menyembuhkan kehancuran moral dihati, pikiran dan perbuatan kita. Bila saat peradilan datang disisa hari ramadhan ini, sesungguhnya itulah ‘kemenangan’ yang terpantas untuk kita terima. ( Dari puing kehancuran nurani ) Bangsa ini seharusnya bangga punya seorang pakar IT seperti ROY SURYO. Setiap ada kasus foto atau video porno artis, pasti beliau turun tangan dan segera bisa memberi penjelasan yang sangat teknologis dan analisis. Atau ketika ada rekaman film bukti sejarah soal lagu kebangsaan kita, beliau juga bisa memunculkannya di muka publik. ( meskipun sebenernya rekaman lagu 3 stanza itu udah muncul jauh2 hari di internet sebelum roy suryo meng-klaim menemukannya di museum leiden ) Atau waktu kasus foto mesra Gusdur yang memangku seorang wanita, pada masa-masa panasnya pertarungan politik, Roy mengklaim bahwa foto Gusdur dan wanita itu asli adanya. Padahal, gw aja yang bukan pakar telematika bisa bedain dengan mata telanjang bahwa foto itu hasil rekayasa photoshop dengan adjusment pencahayaan yang kurang pas. Nah, untuk urusan foto dan video porno nampaknya Roy Suryo lebih mumpuni dan handal. Gimana kalo kita rubah statusnya bukan menjadi pakar IT dan telematika? Gimana kalo kita nyatakan sebagai pakar foto dan video porno artis? Karena untuk orang yang latar belakang pendidikannya setinggi beliau, ternyata kemampuan terbaiknya cuma bisa meneliti gambar dan video porno serta bukti sejarah yang udah basi beritanya di internet. Jadi,...apa hebatnya ya? Hmm.... Wahai para wanita, berhentilah untuk menjadi ‘SUPER HERO’. Kalo terus-terusan kayak gitu, dijamin deh kalian akan makin susah nemuin belahan jiwa yang kalian cari. Mau tau kenapa? Hakikat mencintai itu kan untuk saling menyempurnakan dan melengkapi. Kalo kalian terus ambil peran sebagai sosok tangguh dan kuat yang justru itu seharusnya perannya para lelaki, ya otomatis para lelaki akan kehabisan peran. Pria-pria akan melihat kalian sebagai sosok yang gak butuh dibela, dilindungi dan di manjakan. Jadi mereka akan segera berbalik arah untuk menjauhi sosok sempurna kalian. Sebetulnya bukan karena para pria itu takut terancam posisinya lho. Tapi, karena mereka gak menemukan sebuah gambaran kelembutan dan kerapuhan yang membuat mereka berkeinginan kuat untuk menjadi seorang guardian angel or knight in shining armour. Udah jadi naluri lelaki (normal) untuk secara intuitif bersikap heroik dan patriotis. Kalo kalian ambil peran heroik dan patriotis itu, berarti kalian sama aja dengan meletakan posisi para pria itu sebagai banci kaleng. ( Padahal banci kaleng malah lebih bisa gagah ). Dan bagi para pria itu merupakan sebuah pelecehan dan sebuah pernyataan ‘tidak menghormati’ porsi/jatah peran’ yang udah di casting dari ‘sono’nya. Lebih parahnya lagi, kalo kalian nih, para wanita yang heroik, menambahkan prilaku kalian dengan sikap playing‘hard to get’ untuk meninggikan harkat dan image kalian dimata lelaki. Tambah repot aja deh masa depan kalian sebagai cewek. Bisa-bisa jadi perawan tua tuh. Data statistik membuktikan kalo jumlah cewek jauuuh lebih banyak dibanding cowok. Jadi kalo ‘aree geenee’ masih sibuk dengan prilaku jaim dan playing hard to get, gak jamin deh kalo kehidupan pecintaan kalian bakalan sukses. Eit, jangan sewot dulu dong. Bukannya gw nyuruh para cewek untuk merendahkan kwalitas diri dan pride-nya dihadapan cowok dan mengemis-ngemis memohon untuk dicintai. Gak begitu. KELEMBUTAN! Itulah kekuatan terbesar wanita. Ya, dengan kalian bersikap lembut, bermartabat tapi tetap bisa bersikap respek terhadap pria, menunjukan sifat welas asih dan penuh kedamaian itulah kalian tetap akan memiliki ‘harga mahal’ dimata para pria. Sikap humble, low profile high profit, itu jurus paling maut untuk seorang wanita yang elegan. Bukannya bersikap over protektif, nyolot, dan selalu menempatkan diri sebagai cewek yang tinggi kwalitasnya yang bikin seorang cewek bisa dihargai cowok. Kalo kalian tetap bertahan dengan gaya cewek tangguh dan sempurna, bisa-bisa kalian malah mengakhiri masa hidup kalian dengan menikahi cowok pecundang yang selalu lemah dan butuh dibela serta di susuin terus. Inget, cowok-cowok tangguh butuh dilembutkan oleh kasih sayang dari seorang wanita yang penuh cinta kasih. Kalo kalian emang udah pada bosen ama cowok tangguh, ya nggak apa-apa juga sih. Mungkin dengan memacari dan menikahi cowok pecundang bisa membuat hidup kalian lebih berarti. Dan membuat kalian masuk surga. Selamat ya. Weis! Hebatnya orang-orang pintar itu ketika berbicara. Semua hal bisa berjalan mulus bila diucapkan lewat tenggorokan dan lidah mereka. Seolah realita adalah sesuatu yang mudah tunduk dalam pesona intelejensi mereka. Seolah kesulitan adalah omong kosong yang tidak mungkin akan mereka alami. Semuanya rapi diatas kertas konsep mereka. Para dungu yang selalu disapih dari bayi hingga dewasa. Ketika mereka lapar, mereka tinggal merengek. Susupun tersedia. Segala yang mereka miliki adalah hasil pemberian. Kenyamanan hidup, status sosial dan pendidikan mereka ditanggung penuh tanpa mereka harus bersusah payah. Yang harus mereka lakukan hanyalah belajar yang rajin. Menjadi orang pintar dan melanjutkan generasi mereka dengan layak. Orang tua mereka pun bangga ketika mereka datang menghadiri wisuda sang bayi yang tumbuh dewasa. Dengan toga dikepala dan ijazah cumlaude ditangan mereka. Selesailah tugas orang tua memberikan pendidikan terbaik untuk bayi-bayi dewasa mereka. Tapi ada yang mereka lupa. Sang bayi masih sering bertingkah seperti bayi meskipun telah dewasa. Dengan bersembunyi dibalik gelar akademis dan prinsip idealis, mereka maju ke dunia nyata. Mereka berhadapan dengan hidup yang tak semulus gambaran buku teks mata kuliah mereka. 1+1 = 2 ! Itu ilmu pasti. Tak mungkin tersangkalkan. Lalu mengapa di realita tak ada angka pasti ? Mengapa 1+1 bisa-bisanya jadi 3 atau bahkan 4 ? Buku teks mengatakan, bila bertemu ranjau darat, melompatlah untuk menghindarinya. Tapi mengapa buku teks tak mengatakan bahwa ada batang pohon yang membuat kepala kita ter-antuk bila kita melompat ? Realita lah yang salah. Buku teks lah yang benar. Karena buku teks telah teruji secara ilmiah dan dibuat oleh orang-orang pintar dari sekian generasi. Buku teks adalah pedoman kebenaran mereka. Bila mereka menghadapi keadaan yang tidak mereka temukan dalam buku teks mereka, maka mereka akan merasa dibohongi realita. Sayangnya buku teks juga tidak terlalu sempurna mengajarkan bagaimana caranya menghargai realita dan manusia-manusia didalamnya. Buku teks tak mampu menjangkau nilai intrinsik sisi kemanusiaan dan bagaimana memperlakukan manusia sebagai manusia. Buku teks hanya mengatakan, bila diberi sesuatu/diberi pertolongan oleh orang lain, ucapkanlah ‘terima kasih’. Buku teks tak mengajarkan dengan seksama bagaimana cara berterima kasih dengan hati. Buku teks tak cukup dalam mengajarkan bagaimana memahami perasaan orang lain sebagaimana kita sangat ingin dipahami oleh orang lain. Buku teks tak mampu menjangkau ‘rasa’ menjadi manusia yang sesungguhnya. Bila buku teks adalah pedoman kebenaran dalam hidup kita, marilah kita hidup sebagai kutu dalam buku teks yang kita cintai itu. Kalau kita hanya hidup sebagai kutu, buat apa buang-buang duit untuk sebuah gelar akademis? “Tuhanku, kenapa kau meninggalkanku ? Maafkanlah mereka yang tidak mengetahui kebenarannya..”
Kalimat terakhir itu terucap dari seorang murid setia yang telah mengorbankan nyawanya demi keselamatan sang guru yang dicintainya. Sangat dicintainya. Ataukah sang murid hanya korban dari sebuah perjanjian politis sang guru?
“ Sebelum ayam berkokok, kalian akan menyangkal mengenal diriku.” Begitulah pesan terakhir sang guru sebelum peristiwa penangkapan itu. Dan sang murid setia itu telah bersedia untuk menggantikan sang guru demi keselamatan surga.
Berabad-abad kemudian kita mengenal sang murid setia itu sebagai pengkhianat paling licik dalam sejarah hikayat orang suci. Betapa sempurnanya sebuah pengorbanan suci. Dia tidak butuh pujian. Bahkan caci maki dan kutukan yang berlangsung berabad lamanya pun rela dia terima.
Apa jadinya bila kenyataan sejarah terbongkar ? Apa jadinya bila jutaan orang yang meletakan kepercayaan penuh atas sosok dan ajaran sang guru mengetahui bahwa sang guru adalah pengecut yang membiarkan murid terbaiknya mati demi sebuah perjanjian politis di sebuah pertarungan kekuasaan?
Kebohongan yang sempurna adalah kebohongan yang harus ditutup rapat dari segala penjuru. Bagi siapa yang meragukan ‘kebenaran’ sejarah harus mati! Karena itu sangat berpotensi membongkar kebusukan yang dikubur dalam-dalam.
Apa jadinya sebuah keyakinan yang telah dipegang dan dipertaruhkan dalam hidup jutaan umat bila mereka mengetahui semua itu hanyalah kepentingan politis yang telah diatur dengan demikian sempurna?
Apakah mereka akan mengganti nama sang guru menjadi nama si pengkhianat licik yang selama ini dihinakan untuk masuk kedalam doa-doa keselamatan hidup mereka?
Apakah mereka akan merubah TUHAN mereka?
Apakah mereka akan membabi buta dan membakar kitab dan rumah suci yang selama ini mereka pertahankan dalam hati dan keyakinan?
TIDAK! Biarpun kebenaran terungkap, mereka tidak akan mampu menerimanya. Mereka akan tetap bertahan pada kebohongan yang terlanjur menjadi bagian dari nafas mereka. Membongkar ulang sebuah keyakinan yang mendarah daging sama saja menghancurkan sebuah menara harapan yang hampir menyentuh semua cita-cita dan mimpi mereka.
Jadi…demi sebuah kedamaian hidup bersama….mari sama-sama kita membantu untuk ikut mengubur kebenaran sejarah itu dalam-dalam. Mari kita nikmati sebuah peradaban yang dibangun dari tumpukan nyawa dan pengorbanan orang-orang suci yang sesungguhnya. Mari kita sama-sama tersenyum dalam dunia yang telah menutup mata kita dari kebenaran.
Mari kita berpura-pura untuk tidak tahu apa-apa. Sebab….
Sungguh tidak bijaksana untuk mengetahui terlalu banyak hal yang jutaan orang tidak mengetahuinya.
| |